"Bismillahiraahmanirrahim.., Perjuangan itu dirintis oleh orang-orang yg ALIM, diperjuangkn oleh orang-orang yg IKHLAS, dan dimenangkan oleh orang orang yang PEMBERANI.."

Suka Blog Ini..?

Rabu, 04 Juni 2014

Ketika Allah Swt Berbahagia



Bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu sekalian berbahagia.” (QS. An-Nuur : 31)

Pernahkah anda merasakan bahagia? Ya, pasti. Kelulusan sekolah, kelahiran anak tercinta, menyambut kepulangan sanak saudara, pergi berwisata, mendapatkan hadiah, dan peristiwa lainnya. Kita akrab dengan momen-momen bahagia tersebut. Allah Swt sang Maha Pengasih & Penyayang lah yang menganugerahkan jutaan momen  bahagia di rentang hidup manusia. Tapi, pernahkan kita berpikir tentang momen penting di mana justru Allah swt-lah yang berbahagia?

Simaklah ilustrasi berikut ini :
“Di tengah gurun tandus, yang setiap butir pasirnya menguapkan hawa panas, tampak seorang musafir berlari kebingungan kesana-kemari. Matanya menatap jauh. Keringatnya sedari tadi sudah kering. Pana matahari membuat kulit bibirnya terkelupas. Musafir itu mulai berpikir tentang akhir hidupnya. Kematian akan menjemput karena onta yang membawa semua perbekalannya tak kuasa ia temukan. Di saat itulah samar-samar matanya menangkap bayangan berjalan. Ia songsong bayangan itu. Semakin dekat, semakin dekat. Seperti terbius, ia lalu berlari kencang dan memekik senang. Untanya ditemukan.!!”

Demikianlah ilustrasi indah yang dikemukakan Nabi Saw menggambarkan kebahagiaan Allah Swt. Kebahagiaan yang bukan hanya kadarnya yang besar tapi juga mengharukan. Allah swt berbahagia setiap hamba-Nya memanjatkan TAUBAT.

Setiap taubat yang melintasi langit dan menyentuh Arsy-Nya. Dia sambut dengan kegembiraan luar biasa seperti seorang musafir yang menemukan untanya di padang pasir. “Sungguh Allah Swt gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seorang di antara kamu sekalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di tengah-tengah padang sahara,” ujar sang Nabi Saw sebagaimana diriwayatkan Bukhari-Muslim dari Anas bin Malik.


Adapun para ulama telah sepakat bahwa diterimanya taubat seorang hamba harus memenuhi tiga syarat. Pertama, orang itu harus langsung menhentikan dosa itu, seperti halnya seorang pemuda yang berniat zina, namun tiba-tiba meninggalkan wanita cantik yang telah ada di ranjangnya. Kedua, menyesal sepenuhnya, yakni penyesalan yang harus memenuhi seluruh ruang hatinya secara paripurna. Ketiga, berketetapan hati tak akan lagi mengulanginya. Inilah komitmen paska taubat. Jika perbuatan dosa itu diulangi, taubat akan gugur karenanya. Ketiga syarat ini menjadi standar derajat taubat tertinggi yaitu Taubatan Nasuha.

Kebahagiaan Allah Swt tentu bukan kebahagiaan satu arah. Dia-lah Tuhan yang menyambut hamba yang berjalan dengan berlari. Karenanya, seorang hamba yang bertaubat akan memperoleh anugerah kebahagiaan tak terhingga dari Allah Swt. Kutipan surat An-Nuur di atas menjadi garansinya. Kita bertaubat dan kita jugalah yang akan berbahagia. Tak perlu dirinci kebahagiaan macam apa yang akan diraih. Kita tak akan mampu membayangkannya.

Potensi taubat seseorang berada dalam ruang yang amat luas. “Jangan pernah takut taubat kita tak akan diterima”, demikian petuah para ulama. Pintu taubat adalah pintu yang Maha Besar. Selamanya, pintu itu berada dalam kondisi siaga menerima taubat, kapan dan dari mana pun. Sabda Rasulullah Saw, “Pintu itu senantiasa terbuka menerima taubat. Tidak akan ditutup sampai matahari terbitdari sebelah barat (kiamat).” (HR.At-Tirmidzi)

 Maka, jika hari ini ada seorang hamba berjalan ke pintu TAUBAT itu dengan segenap hatinya, itulah hari ketika Allah Swt berbahagia. Wallahu ‘alam Bishawab.


sumber: majalah hidayah 2005 (Aditia)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar