"Bismillahiraahmanirrahim.., Perjuangan itu dirintis oleh orang-orang yg ALIM, diperjuangkn oleh orang-orang yg IKHLAS, dan dimenangkan oleh orang orang yang PEMBERANI.."

Suka Blog Ini..?

Tampilkan postingan dengan label KISAH DARI KITAB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH DARI KITAB. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Kebijaksanaan & Kecerdasan Nabi Isa



Ketika diangkat nabi oleh Allah swt, Nabi Isa baru berusia 30 tahun. Namun, sebagai Nabi, ia sangat bijaksana dan cepat tanggap, meskipun umurnya masih muda. Sayangnya, sebagian dari kaumnya tidak puas dan selalu berusaha mencari-cari kelemahannya.

Pada suatu hari, ada salah seorang dari mereka yang berkata, “Bagaimana mungkin engkau patut menjadi pemimpin kami? Umurmu masih terlalu muda.”

Nabi Isa dengan tenang menjawab, “Tidak, saya sudah cukup tua dibandingkan dengan Nabi Ibrahim ketika baru dilahirkan.”

Orang itu terdiam mendongkol. Namun, masih ada orang lainnya yang kurang puas. Orang kedua ini lantas berkata, “Di zaman kepemimpinan Nabi Zakaria, kehidupan di sini sangat tenteram, tetapi di masa kenabianmu sekarang, banyak sekali terjadi kerusuhan.”

Tanpa sikap marah Nabi Isa berkata, “Memang betul, sebab di zaman Nabi Zakaria umatnya seperti saya, sedangkan di masa sekarang umatnya seperti engkau semua.”

Kedua pembangkang itupun tidak bisa berbicara lagi. Mereka kehabisan kata untuk membantah kebijakan Nabi Isa.

Pada kesemoatan yang berbeda, seorang murrid Nabi Isa bertanya, “Apakah yang paling berharga bagi manusia?”

“Akal,” kata Nabi Isa. “Sebab dengan akal manusia bisa menyejahterakan hidupnya.”

“Kalau tidak ada?”

“Sahabat yang mau memberikan nasihat.”

“Kalau tidak ada?”

“Harta yang halal dan dapat dibanggakan.”

“Kalau tidak ada?”

“Diam.”

“Kalau tidak bisa diam?”

“Mati,” jawab Nabi Isa. “Sebab, manusia jika tidak punya apa-apa, tetapi tidak bisa diam, biasanya mulutnya hanaya akan dipakai untuk mengeluh dan dengki.”

Demikianlah cara Nabi Isa memberikan pengertian kepada muridanya dan kepada para sahabatnya.

Pernah pada suatu hari Nabi Isa bertanya kepada para sahabatnya, “Andaikata kelian melihat salah seorang saudaramy terbuka auratnya ketika tidak sadar, misalkan sewaktu sedang tidur, apa yang akan kalian lakukan?” Apakah akan kau tutup auratnya, atau kau buka sekalian biar telanjang bulat?”

Para sahabatnya menjawab, “Selaku orang-orang waras, tentunya akan kami tutupi supaya auratnya tidak kelihatan lagi. Masak akan kami buka sampai telanjang bulat?”

Nabi Isa lalu berkata, “Begitulah seharusnya sebagai orang-orang yang beradab. Tetapi, mengapa apabila aib saudaramu terbuka, malah seringkali dibeberkan ke mana-mana, bahkan ditambah dengan membongkar aib-aibnya yang lain? Apakah hal itu tidak berarti sama saja dengan menelanjangi saudaramu sendiri di muka masyarakat? Jika seseorang telah dibentangkan seluruh aibnya di tengah masyarakat, biasanya akan jadi nekad di dalam maksiat serta akan malu untuk kembali kepada masyarakat yang sopan. Karena itu, janganlah suka membongkar aib orang lain, apalagi membeberkannya hingga meluas ke mana-mana. Orang yang mempunyai aib seharusnya diberi peringatan secara bijaksana agar mau bertaubat.”



sumber : 30 Kisah Teladan Jilid 1_kh.Abdurrahman





Selasa, 12 Mei 2015

Tujuh Pekerjaan Mulia



Ketika sedang berjalan-jalan, suatu hari Rasulullah bertemu dengan Sa’ad bin Ma’az al Anshari. Ketika sedang berjabat tangan, Rasulullah merasakan sesuatu  yang kasar di telapak tangan Sa’ad.

“Kenapa tanganmu? Coba kulihatnya,” tanya Rasulullah.

“Ini bekas mis-ha yang kupukul-pukulkan ke tanah untuk mencari nafkah bagi keluargaku,” jawab Sa’ad. Mis-ha adalah sejenis alat pertanian yang menyerupai cangkul.

Mendengar jawaban itu, Rasulullah lalu mencium tangan Sa’ad dan berkata, “Inilah tangan yang tidak akan disentuh oleh api neraka.”

Sabda Rasulullah itu menunjukkan betapa mulianya pekerjaan sebagai seorang petani. Dalam hadist yang lain, dari Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh Bazzar dan Abu  Nu’aim, Rasulullah bersabda :

“Ada tujuh macam pekerjaan seseorang yang pahalanya masih tetap mengalir meski dia sudah masuk kubur, yaitu : 1. Mengajarkan ilmu pengatahuan, 2. Mengalirkan air sungai, 3. Menggali sumur untuk minum, 4. Menanam pohon untuk penghijauan, 5. Mendirikan masjid, 6. Mewariskan kitab suci Al-Quran, dan 7. Mendidik anak yang berbakti dan memohonkan ampunan baginya sesudah dia meninggal dunia”


 sumber : 30 Dongeng Sebelum Tidur_ Kidh Hidayat_ Surabaya : Penerbit Mitra Umat




Minggu, 29 Maret 2015

Tiga Cangkir Teh, Tiga Pertempuran, & Tiga Kehidupan



Dalam perjalanannya menuju Istana Imahama di Provinsi Omi, Toyotomi Hideyoshi yang merasa haus mengistirahatkan pasukannya di sebuah kuil bernama Kuil Kanon yang terletak tidak jauh dari Istana Imahama.
“Perintahkan pasukan untuk beristirahat!”, perintah Hideyoshi kepada pasukan depan.
“Baik, Tuan,” jawab seorang pengawal.
Melihat kedatangan Hideyoshi dan pasukannya, salah seorang pembantu pendeta kuil tersebut pun menyambutnya.
“Ada keperluan apakah Tuan datang ke mari?” tanya pembantu pendeta tersebut
“Aku hendak beristirahat di kuilmu sejenak. Itu jika Tuan mengizinkan,” pinta Hideyoshi.
“Dengan segenap hati saya akan mempersilakan Tuan untuk beristirahat. Silakan masuk, Tuan,” jawab sopan pembantu pendeta tersebut.
Dengan adanya izin dari pembantu pendeta Kuil Kanon, Hideyoshi pun memerintahkan pasukannya untuk segera bersitirahat sebelum menghadapi peperanga yang kuat.
Sebagai pimpinan pasukan, pembantu pendeta menjamu sepesial Hideyoshi di ruang tamunya. Sembari menyuguhkan secangkir teh yang sudah dingin.
“Wah, Tuan sungguh terberkati oleh Dewa. Saya benar-benar haus sekali. Terimakasih tehnya,” jawab Hideyoshi setelah menghabiskan dengan cepat suguhan teh tersebut.
Melihat kelakuan Hideyoshi, pembantu pendeta hanya tertawa simpul. Namun Hideyoshi yang benar-benar kehausan tidak mempedulikannya.
“Bisakah anda memberikan saya secangkir teh lagi?” pinta Hideyoshi.
“Akan segera saya ambilkan, Tuan,” jawab pembantu pendeta tersebut.
Tidak berapa lama, pembantu pendeta tersebut kembali dengan membawa secangkir teh dan menyuguhkannya dengan segera.
“Hmm.., teh kali ini berbeda dengan yang tadi?” tanya Hideyoshi.
“Iya Tuan.. masih sedikit hangat. Minumlah sedikit berlahan,” ucap pembantu pendeta menjelaskan.
“Maaf, saya benar-benar haus. Sudah tidak kuat menahan dahaga ini,” jawab Hideyoshi setelah menghabiskan teh kedua dengan cepat pula.
“Apa Tuan menghendakinya lagi?” tanya pembantu pendeta tersebut.
“Hmm.. jika Tuan tidak merasa keberatan,” jawab Hideyoshi.
“Akan segera saya siapkan, Tuan,” jawab pembantu pendeta.
Tidak selang berapa lama kemudian, pembantu pendeta sudah terlihat kembali dengan membawa secangkit teh. Hanya saja, untuk kali ini Hideyoshi melihat pembantu pendeta membawa teh yang masih mengeluarkab asap.
“Apa teh tersebut masih panas?” tanya Hudeyoshi setelah pembantu pendeta  menghampirinya.
“Benar, Tuan,” jawab pembantu pendeta secara singkat.
“Hmm.. bagaimana saya bisa menghabiskannya dengan capat?” tanya Hideyoshi.
“Tidakkah anda ingin menikmatinya sejenak, Tuan?” tanya pembantu pendeta.
“Beri saya penjelasan,” pinta Hideyoshi.
“Seperti seorang pejuang pemula… pada awal pertaruangannya, dia sangat berambisi untuk segera menumpak kekuatan musuh. Lebih cepat lebih baik. Namun, setelah dirinya berhasil dan hendak menhadapi pertempuran selanjutnya, dia akan lebih berhati-hati karena menyangkut hidup dan kekuasaannya. Tidak terlalu lama dan tidak tergesa-gesa. Sedikit strategi, baru memulai pertempuran. Hingga akhirnya berhasil, dia pun masih menginginkan kekuasaan yang lebih lagi. Dan saat kesempatannya tiba, dia akan jauh lebih berhati-hati dalam menghadapai lawan. Karena lawan yang berikutnya tentu akan lebih berbahaya. Bukan hanya strategi yang disiapkan, bahkan pasukannya pun dia pilih sebaik mungkin agar mampu menguasai wilayah lawannya yang lebih tangguh.,” pembantu pendeta tersebut menjelaskan dengan panjang lebar.
“Hmm.., coba jelaskan apa hubungannya dengan semua ini?” tanya Hideyoshi.
“Tiga cangkir teh, tiga pertempuran, dan tiga kehidupan,” jawab singkat pembantu pendeta tersebut.
“Hmm..,” Hideyoshi hanya menggeram lirih sembari menunjukkan mimic wajah yang masih bingung.
“Tiga cangkir teh... tiga pertempuran.. dan tiga kehidupan. Pada saat saya menyuguhkan secangkir teh yang pertama, teh tersebut sudah dalam keadaan dingin. Anda dengan segera menghabiskannya. Hal ini seperti saat Anda sedang menghadapi pertempuran Anda yang pertama. Begitu beambisi dan antusias untuk mengalahkan lawan dengan segera. Saat itu, Anda tentu tidak memikirkan kehidupan Anda. Yang terpenting, dalam benak Anda adalah.. lebih cepat, lebih baik,” pembantu pendeta tersebut menjelaskannya secara berlahan.
“Hmm.. lanjutkan,” pinta Hideyoshi.
“Tentang suguhan teh saya yang kedua, saya menyuguhkannya dalam keadaan hangat. Saya melihat Anda tidak langsung meminumnya, melaikan ada sedikit perbincangan di antara kita. Sama seperti dalam pertempuran yang kedua. Jika pertempuran yang pertama tadi sudah dimenangkan, tentu kekuasaan akan bertambah. Maka dia akan lebih waspada dalam pertempuran kedua, karena bukan hanya nyawa yang dipertaruhkan, melaikan wilayag kekuasaan juga. Itu sebab, sedikit strategi pun dirancanakan agar semua tidak menjadi kesalahan fatal,” pembantu pendeta itu menjelaskan.
“Baik, saya mulai memahami perkataan Anda. Dan tentang yang ketiga?” pinta Hideyoshi.
“Tentang suguhan teh saya yang ketiga, saya memang sengaja menyuguhkannya dalam keadaan panas. Saya perumapakan lagi dalam keadaan pertempuran. Setelah pertempuran pertama dan kedua berhasil dimenangkan, semakin besar pula wilayah kekuasaan yang didapat. Seorang pejuang sejati pasti akan memperhitungkan untung dan ruginya pada pertarungan berikutnya. Dia akan lebih berhati-hati. Segala rencana dan strategi diperhitungkan dengan lebih terperinci. Tidak tergesa-gesa, tidak pula terlalu lama. Dirasa rencana sudah matang, maka pertempuran dilaksanakan,” jawab pembantu pendeta tersebut.
“Haha..!! saya tidak pernah menyangka Anda begitu mengenal startegi pertempuran. Bahkan saya pun tak menyadarinya,” puji Hideyoshi.
“Tidak Tuan, saya hanya seorang abdi Dewa. Hanya tangan Dewa lah yang menentukan segalanya. Dan ajaran ini saya dapatkan dari ajaran Dewa,” kata pembantu pendeta dengan merendah.
“Hmm.. Tiga cangkir the, tiga pertempuran, dan tiga kehidupan. Kalau tidak salah Anda belum menjelaskan tentang tiga kehidupan. Apa maksud tiga kehidupan itu?” tanya Hideyoshi yang masih belum puas.
“Tentang ‘tiga’ itu semua, masing-masing masih saling berhubungan. Dalam kehidupan, seseorang pasti dihadapkan pada tiga kenyataan, yaitu hidup, mati, dan surga. Seperti meminum secangkir teh yang pertama. Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, tidak sadarkah kita kehidupan begitu cepat? Diteruskan dengan secangkir teh yang kedua, sedikit lambat. Seperti di saat kematian kita kelak, sedikit lambat hingga menunggu beberapa orang di kemudian hari yang menyusul. Kita tidak akan tahu kapan kita dan mereka akan mati. Dan secangkir teh yang ketiga, lama. Ini seperti kehidupan di surga, kita akan abadi bersama dewa-dewa. Itu sebab, dalam menjalankan pertempuran, terutama seorang seperti Anda, tentukanlah sikap yang bijak. Karena menyangkut kehidupan seseorang. Tidakkah kita akan bijak jika kita bisa lebih berlahan dan memperhitungkannya kembali?” pembantu pendeta kuil itu mengakhiri penjelasannya.
“Aku rasa Anda benar. Tidak seharusnya kuta bertempur tanpa sebuah strategi yang cerdik. Karena selain hanya akan menyia-nyiakan pasukan kita, mungkin saja kekalahan pun siap mendatangi kita,” ucap Hideyoshi.
“Tuan, mimunlah teh Anda. Saya rasa, Anda sudah terlalu lama membairkan teh ini mengunggu,” pembantu pendeta mencoba mengingatkan.
“Oh iya. Dan saya rasa, saya sudah terlalu lama juga berada di sini. Saya mohon pamit. Terima kasih atas jamuannya. Semoga apa yang menjadi pembicaraan kita hari ini, kelak menjadi kekuatan tersendiri bagi saya,” kata Hideyoshi.
“Semoga saja..,” ucap pembantu pendeta tersebut.
Setelah Hideyoshi menyelesaikan minumnya, Hideyoshi pun segera mempersiapkan pasukannya dan segera memimpin menuju Istana Imahama. Namun sebelum Hideyoshi berangkat, Hideyoshi mencoba ingin tahu siapa gerangan pembantu pendeta tersebut. Hideyoshi merasa tidak percaya jika laki-laki yang ditemuinya tadi hanyalah seorang abdi kuil biasa.
“Siapa nama Anda, Tuan?” tanya Hideyoshi.
“Mitsunari.. Ishida Mitsunari, Tuan,” jawabnya singkat.


sumber : buku Sekigahara (perang besar penentu pemimpin Jepang) hal 111-115_ penulis Dozi Swandana_  penerbit Bukukatta/Solo




Jumat, 06 Maret 2015

Aku Jatuh Cinta Lagi.!!




Aku jatuh cinta lagi?

Alamak, apakah ini guyonan tukang sayur? Atau, jangan-jangan hanya gossip? Sebenarnya aku malu mengakuinya, namun aku akan berusaha jujur pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta lagi.

Saat ini, statusku adalah seorang suami. Selain itu, aku juga ayah dari dua orang anak. Bahkan umurku pun sudah menginjak 30 tahun.

Lantas, salahkah jika aku jatuh cinta lagi?

Aku berusaha sekuat tanaga untuk membuang rasa ini. Namun, rasa itu semakin melekat dalam hatiku. Aku telah mengatakan bahwa aku telah mempunyai anak dan istri, tetapi si Dewi Cinta tetap saja tak peduli. Ia mengatakan bahwa cinta tak mengenal batasan usia dan status. Akhirnya, aku pun pasrah dalam dekapannya.

Lalu, siapakah yang telah membuat hatiku mabuk kepayang?

Ia adalah seorang wanita yang sempurna. Dari segi fisik, ia lumayan cantik (nilainya sekitar tujuh plus). Wajahnya bulat telur dan memiliki tahi lalat yang mempesona. Hidungnya mancung. Matanya mengingatkanku pada sosok artis film India, Renee Mukherjee, yang tajam dan penuh arti.

Namun, bukan hanya segi fisik itu yang membuatku jatuh cinta kepadanya.

Ia adalah orang yang sangat pengertian, penyayang, dan selalu bersikap baik kepadaku. Ia tidak segan menegurku ketika aku salah. Namun, ketika aku berhasil meraih prestasi dalam hidup ini, ia juga orang pertama yang memuji dan memberiku selamat.

Saat aku terpuruk beberapa bulan yang lalu, ia pun datang kepadaku dengan senyuman yang menentramkan jiwaku. Bagitu ia datang, rasa gundah dalam hatiku oun lenyap. Sehingga aku sering mengibaratkannya sebagai seorang dokter. Ketika aku sakit, dokter akan memeriksa, lalu mengdoagnosis penyakit, dan memberi obat. Setelah meminum obat dari dokter, maka penyakitku berangsur-angsur akan sembuh.

Namun wanita itu lebih hebat dari dokter. Sebab ia bisa menyembuhkan segala penyakitku hanya dengan senyuammnya. Ya, senyumannya yang tulus itu dapat menyembuhkan segala rasa sakit yang aku rasakan.

Hanya ada empat wanita terbaik dalam hidupku, yaitu ibu, istri, dan kedua putriku.

Tetapi, apa yang kurasakan saat ini? Ah, entahlah…

****

Perasaan cinta ini tiba-tiba muncul pada suatu malam, ketika aku pulang dari bekerja. Saat itu, aku melihat seraut wajah yang tampak lelah, namun menyiratkan keteguhan dan kerja keras. Memang aku tahu persis perjuangan hidupnya tidak bisa dianggap enteng. Namun semnagatnya tetap membara. Sehingga, wanita itu benar-benar membutakan hatiku.

Sekali lagi, aku pandangi wanita yang berada di depanku. Maka, aku semakin kagum pada pesonanya. Sungguh, hanya dengan memandangnya, seolah-olah aku telah teriduksi oleh semangat yang muncul dalam dirinya.

Aku mendekat, lalu kupegang wajahnya yang teguh. Dan, sebaris senyuman yang menawan pun tersungging di sana. Kemudian, aku pun memeluknya.

Terimakasih Ya Allah, Engkau telah memberikan istri yang cantik luar dan dalam kepadaku. Sungguh di dekatnya, aku merasa sangat tenteram. Kalau boleh aku menyebut surge dunia, di sinilah aku pernah mencicipinya, di dalam rumah kami yang mungil.

“Istriku, aku jatuh cinta lagi padamu!” teriakku histeris.


sumber :

Cup of Tea (Secangkir The Penyejuk Jiwa yang Lelah), hal : 181-184. Penulis : Alang-alang Timur. Penerbit : Diva Press, Jogjakarta.





Senin, 16 Februari 2015

"Sang Nabi ﷺ"




by : Ust. Salim A Fillah


Sekenal apa kita pada Sang #Nabi ? Mohon izin merangkum beberapa sifat beliau dari hadits-hadits dalam Asy Syamail karya Imam At Tirmidzi: 


****

1. Perawakan Sang #Nabi tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi.

2. Kulit Sang #Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar.

3. Alis Sang #Nabi
melengkung panjang, tebal, & nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah.

4. Bola mata Sang #Nabi
indah & hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar.

5. Janggut Sang #Nabi
menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya.

6. Dari bawah janggut Sang #Nabi
menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya.

7. Leher Sang #Nabi
jenjang & indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.

8. Lengan Sang #Nabi
panjang, tapak tangan lebar & tebal, jemarinya ramping. Telapak kaki beliau cekung, halus hingga airpun tak menempel.

9. Sang #Nabi
berjalan dengan langkah kaki lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut berguncang anggun tiap langkah.

10. Bila menoleh, #Sang Nabi
berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menunduk dibanding mendangak, melihat dengan sepenuh perhatian.

11. Dulu #Nabi
suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau selisihi dengan menyisir belahnya.

12. Sang #Nabi
suka meminyaki rambutnya. Kata Anas, uban beliau nan kurang dari 20 helai jadi tersamar. Beliau gemar merapikan janggutnya.

13. Sang #Nabi
menyukai celak itsmid yang beliau gunakan menjelang tidurnya. Tiga kali untuk kanan & kiri; sejuk & menumbuhkan bulu mata.

14. Di antara pakaian kesukaan Sang #Nabi
adalah gamis yang putih, hibarah merah buatan Yaman, & baju sampir 2 helai warna hijau & hitam.

15. Sang #Nabi
berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri harumkan bagian ‘aurat.

16. Jari manis Sang #Nabi
dilingkari cincin perak bermata batu hitam Habasyah, ditulisi “Muhammad Rasul Allah”; dilepas jika ke Peturasan.

17. Sang #Nabi
menyimpan selalu selimut Khadijah; kenangan menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama, & di dalamnya beliau diseru.

18. Sang #Nabi
gesit berolahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang anak-anak kecil; beliau lombakan siapa dulu yang mampu tangkap beliau.

19. #Nabi
suka minum susu dari wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, & buah lain; segigit berdua.

20. Tidur Sang #Nabi
tidak tengkurap. Jika miring berbantal tapak tangan, kaki disilang. Jika telentang, kaki kanan diletak di atas kiri.

21. Kadang dalam renung khusyu’, Sang #Nabi
duduk dengan 1 lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi bukan di saat makan.

22. #Nabi
suka mandi bersama & bercanda bermain air dengan istri-istrinya, bahkan pada Saudah nan tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu.

23. Penutup kepala kesayangan #Nabi
ialah surban hitam, dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. Sandalnya bertali dua dari kulit hewan.

24. Makanan kesukaan #Nabi
-yang jarang beliau nikmati- adalah paha kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam, kismis, & susu masam.

25. #Nabi
yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas rumah-tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, tombak.

26. #Nabi
makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah; kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka, & labu.

27. #Nabi
tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar.

28. #Nabi
mengerjakan sendiri segala urusan rumahtangga yang beliau bisa; menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, hingga memerah susu.

29. #Nabi
amat suka bersiwak bersih gigi; saat hendak shalat, hendak tilawah, hendak menemui tamu/sahabat, juga tiap kali menjumpai istri.

30. #Nabi
tak pernah jijik pada istri yang sedang haidh (seperti kebiasaan Arab & Yahudi); beliau tetap bermesra, hanya menghindari jima’.

31. Saat ‘Aisyah haidh, #Nabi
bersandar di pangkuannya sambil tilawah; atau meletakkan kepala di antara kaki ‘Aisyah, tidur dalam hangat.

32. Bahkan tuk shalat malam, #Nabi
minta izin pada istri nan lagi bersama di ranjang; “Apa kau ridha jika malam ini aku menghadap Rabbku?

33. Karena sempitnya kamar #Nabi
, tahajjud beliau menghadap ‘Aisyah berbaring. Jika hendak sujud, diisyarati kaki sang istri agar ditekuk.

34. Sang #Nabi
amatlah pemalu, lebih tersipu dibanding gadis dalam pingitannya. Tak pernah terbahak, hanya senyum tulusnya semanis madu.

35. Sang #Nabi
tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api.

36. Jika dihadapkan pada pilihan, Sang #Nabi
selalu mengambil hal yang ringan & mudah; selama ia tak jatuh pada apa yang dilarang Allah.

37. “Tak pernah kulihat”, kata Anas, “#Nabi
marah atau membalas laku buruk atas diri beliau. Beliau marah jika Allah & agamaNya dinista.”

38. “Pernah 3 x hilal berlalu”, ujar ‘Aisyah, “Tiada nyala api di rumah kami.” Apa penyambung hidup #Nabi
?, tanya ‘Urwah. “Kurma & air .”

39. Kelembutan Sang #Nabi
tak terhalangi & tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil ‘Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalatnya.

40. Al Husain naik ke punggung #Nabi
saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al Husain puas bermain. Nanti, beliau minta maaf pada hadirin.

41. Saat para cucu jadikan #Nabi
kuda-kudaan, merangkak kian-kemari, kata Abu Hurairah, “Tunggangan kalian paling mulia di langit & bumi”.

42. #Nabi
lalu tersenyum bersabda, "Pun penunggangnya, adalah yang terbaik." Ya Allah, curahi kami rahmatMu tuk kelak bersamanya di surga.


****


*dari twit @salimafillah (12 Rabiul Awwal 1436 H)




sumber : di sini